Sedikit curhat--atau mungkin bakal banyak, hehe--meskipun sebenarnya sejak awal tahun kemarin sebenarnya aku udah mengkhususkan blog ini untuk mencurahkan cerita keseharianku yang berkaitan soal kuliner, tetapi maafkan aku kalau dalam posting-an kali ini aku agak sedikit menyimpang dari peruntukan awal blog ini.
Berhubung saat ini kita sudah memasuki bulan Desember, which is, the last month of the year, jadi aku sedikit mau menceritakan resolusiku, atau rencana yang ingin aku capai di tahun depan.
Mungkin membaca resolusiku bukanlah hal yang penting bagi para pembaca yang mungkin kebetulan mampir ke blog-ku ini, tapi entah kenapa aku ingin berbagi soal rencanaku untuk tahun depan nanti, mungkin aja nantinya akan ada orang lainnya yang tergugah dan ikut tertular semangatku untuk mencapai hal ini.
Resolusiku adalah: Go International!
Kalau Agnezmo di masa mudanya sering mengatakan kepada media bahwa ia ingin Go International--dan akhirnya sekarang pun terwujud--aku ingin melakukan hal yang sama. Dan kalau aspek yang ingin di Go International-kan oleh Agnezmo adalah kariernya sebagai penyanyi, lalu aspek yang akan aku Go International-kan apa? Kuliner?
Ya, itu juga sih, haha. Nanti sambil menyelam minum air, aspek kuliner ini secara tidak langsung akan aku Go International-kan juga ketika aspek utama yang ingin aku Go International-kan terwujud.
Jadi karena dari tadi aku muter-muter aja pembicaraannya, oke deh, aku akan bilang sekarang. Berhubung aku masihlah seorang mahasiswa, jadi aspek utama yang ingin aku Go International-kan adalah pendidikanku. Aku merasa, tahun-tahun pertama kuliahku kemarin sudah cukup kugunakan untuk mendapatkan banyak pengalaman keorganisasian dan kegiatan sosial. Maka di pertengahan masa kuliahku ini, aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk merasakan pengalaman lain yang tidak semua orang dapat dengan mudah merasakannya. Ini adalah tantangan baru bagiku yang sangat ingin aku taklukan, karena aku rasa ini adalah saat dimana jiwa mudaku masih bergelora, aku masih sangat semangat untuk mencoba hal-hal baru, dan lagi, jika aku sudah masuk ke tahun terakhir nanti, mungkin aku tidak bisa memikirkan hal-hal ini lagi--atau paling tidak aku harus menundanya sampai aku lulus, dan aku harus menunggu cukup lama lagi sampai saat itu tiba.
Mungkin hal ini terlihat muluk, tetapi seperti Agnezmo, apa yang semula dipikirkan orang lain adalah sesuatu yang tidak mungkin, toh pada akhirnya dia bisa mewujudkannya. Kemudian, rasa optimis dari dalam diriku sedikit demi sedikit muncul.
Berbekal semangat yang dipancarkan Agnezmo, dan secara kebetulan aku juga sempat terlibat dalam sosialisasi tentang pendidikan lanjutan dan pembicara dalam sosialisasi tersebut inspiring banget karena pada awalnya dia adalah orang yang tidak mampu, tetapi dia punya semangat untuk melihat dunia dari tanah yang berbeda, sehingga berangkatlah dia ke Jepang, dan semua biaya terkait studinya di Jepang dibiayai oleh beasiswa!
Mulai dari sana, aku langsung semangat untuk mencari beasiswa, baik untuk studi di dalam negeri ataupun di luar negeri. Ditambah lagi, aku pernah berada di dalam kereta menuju suatu kota, dan di sebelah tempat dudukku ada dua orang ibu-ibu yang asyik mengobrol tentang anaknya yang baru saja menyelesaikan studi di luar negeri dan sebentar lagi akan kembali ke Indonesia. Ditambah lagi, aku mendengar kalau ibu tersebut berasal dari daerah yang sama denganku. Mendengar cerita dari ibu tersebut yang terdengar sangat bahagia ketika menceritakan kalau anaknya sudah dapat menjejakkan kakinya ke banyak negara Eropa membuatku semakin terpacu untuk Go International. Orang dari daerah yang sama denganku sudah bisa melakukan itu, aku pun menjadi memiliki semangat agar bisa mencapai hal tersebut juga. Aku juga ingin melihat orang tuaku memiliki kebahagiaan yang sama seperti ibu itu ketika menceritakan tentang keberadaanku kepada orang lain. Aku ingin ibuku-lah yang berbahagia itu, yang dengan semangat mengatakan "Oh, anakku sekarang sedang ada di Amerika Serikat, akhir tahun nanti dia baru pulang, karena dia harus belajar disana selama satu semester." atau "Anakku sekarang sedang berada di Australia, sedang ada kegiatan sosial bersama organisasi internasional. Dua minggu lagi baru pulang." atau "Dia sedang berada di Belanda selama satu minggu. Dia sudah banyak melihat dunia."
Lalu, betapa senangnya hatiku setelah melakukan pencarian panjang atas beasiswa-beasiswa tersebut, akhirnya aku menemukan program short course untuk studi di Amerika Serikat, Belanda, dan Australia. Aku pun langsung mencoba apply program tersebut.
Saat ini, aku sedang berada dalam tahap pengumpulan dokumen untuk apply study di Australia dan Amerika karena batas pengumpulannya sudah dekat. Beberapa hari yang lalu, aku meminta Letter of Recommendation dari salah satu Profesor yang juga adalah dosenku. Beliau sangat senang dan antusias ketika melihat aku akan apply ke Amerika, karena ternyata beliau juga salah satu awardee dari program yang diselenggarakan oleh Amerika ini. Selain itu, beliau mengatakan kalau beliau sangat senang jika anak-anak didiknya dapat mengambil pengalaman yang jauh sampai ke luar negeri sana, apalagi ia turut andil dalam proses tersebut. Beliau akan sangat senang jika aku benar-benar mendapatkan program ini dan dapat berangkat ke Amerika tahun depan. Beliau bahkan berpesan "Pokoknya kalau nanti sudah sampai di negeri Paman Sam, jangan lupakan ibu, ya." Sumpah, disitu aku terharu banget! Tahap seleksi aja belum, ibu ini udah sampai membayangkan sejauh itu. Secara tidak langsung, kata-katanya tersebut semakin meningkatkan rasa optimisku untuk mengikuti program ini. Aku bahagia karena ada orang yang percaya kalau nanti aku bisa sampai negeri Paman Sam.
Tentu saja, bu. Saya tidak akan lupa bagaimana ibu mendukung saya, mulai dari bersedia memberikan Letter of Recommendation untuk saya--disaat mungkin dosen lainnya yang notabennya tidak begitu mengenal saya (karena saya bukan tipikal murid yang menonjol di kelas atau rajin lomba dan memenangkan kompetisi) agak keberatan untuk istilahnya menjadi 'penjamin' atas diri saya, karena orang yang memberi rekomendasi kemungkinan akan dihubungi terkait rekomendasinya atas diri saya--ibu dengan antusias dan senang hati mau membantu saya, bahkan menularkan optimisme kepada saya juga sehingga saya yang awalnya tidak memiliki keyakinan sama sekali terhadap program ini, pada akhirnya mau sedikit-sedikit mencoba berani merasa optimis akan hal yang sedang saya coba.
Kembali lagi, seperti Agnezmo, mungkin aja dengan aku bilang ke media kalau aku ingin Go International, nantinya keinginanku ini benar terwujud. Terlebih lagi, tujuanku yang utama bukan hanya 'curhat' kalau di tahun 2018 aku mau Go International, tetapi aku ingin menularkan semangat untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya, melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, sisi benua yang berbeda. Aku bukanlah seorang awardee beasiswa luar negeri yang pengalamannya dapat memberikan inspirasi seperti pembicara pada sosialisasi pendidikan yang pernah kuikuti itu, tetapi aku ingin jika orang-orang yang membaca tulisan ini juga mendapatkan semangat yang kurasakan saat ini, dan sama-sama kita mencapai resolusi itu.
Last but not least,
Mimpiku mungkin mimpi kalian juga. Kalau mereka yang pernah bermimpi akhirnya bisa mewujudkannya, berarti kita juga bisa!
#bukanfansagnezmotapiterinspirasi
Dream big! Selamat berjuang untuk mimpimu :)
BalasHapus