Laman

Sabtu, 02 Desember 2017

Escape Holiday

Bulan lalu adalah bulan terberat bagi kegiatanku. Puncaknya adalah akhir November lalu, ketika aku harus mengakomodir sebuah forum berskala nasional yang persiapannya menyita waktuku.

Forum tersebut pada akhirnya dapat diselenggarakan dengan lancar, dan setelah acara tersebut, minggu selanjutnya tiba-tiba aku merasa jenuh dengan hidupku, aku jenuh dengan tempat tinggalku, aku jenuh dengan orang-orang di sekelilingku. Aku ingin lepas dari ini semua. Aku ingin rehat sejenak. Aku ingin mengasingkan diri ke tempat dimana aku benar-benar bisa menyegarkan pikiranku tanpa harus memikirkan hal-hal lain yang membuat pikiranku penat, aku ingin menghindari orang-orang di sekelilingku, bahkan orang-orang yang biasa dekat denganku sekalipun, aku ingin pergi sejenak dari tempat tinggalku--yang ini jangan ditiru ya, hehe--sehingga aku rasa aku butuh me time, dan pada akhirnya terbitlah sebuah pilihan untuk pergi ke Kota Semarang atau Jogja.

Di Semarang, aku menemukan tempat yang kurasa tepat untuk mengasingkan diri, yaitu sebuah Capsule Hotel yang terlihat cozy dan dapat mendukungku untuk lebih produktif dalam menulis draft food review ataupun novel draft.

Source: Traveloka

Meskipun memang hotel ini menggunakan sistem shared room, tetapi yang aku suka dari tempat ini adalah setiap slot tempat tidur memiliki tirai penutup, sehingga setiap pengunjung memiliki ruang privasi dalam kubikelnya sendiri, dan ini aku rasa adalah tempat yang tepat karena aku bisa mengurung diri di dalam kubikelku dan menulis draft disana.


Kalaupun aku jenuh berada di dalam capsule-ku, aku bisa berpindah tempat ke spot lain hotel ini. Mereka juga menyediakan work space yang cozy sehingga aku rasa aku akan nyaman menulis disana.



Sementara pilihan lainnya adalah Yogyakarta. Sebenarnya aku agak jenuh juga dengan kota ini karena aku cukup sering kesana, tetapi itulah kota yang sudah aku kenal daerahnya, dan sepertinya aku sudah memiliki keberanian yang cukup untuk pergi ke Jogja seorang diri.

Di stasiun, aku sempat bingung mau membeli tiket ke mana, aku sempat menelepon temanku di Belanda sana untuk meminta pendapat (aku tidak bisa menanyakan pendapat kepada teman-teman dekatku disini karena aku kan merencanakan perjalanan ini untuk menghindari mereka, kalau aku tanya ke mereka nanti 'tempat persembunyianku' ketahuan, dong.

Setelah berkonsultasi dengan temanku itu, akhirnya aku putuskan untuk memilih Jogja saja. Di Jogja, aku berencana untuk menyendiri di tengah keramaian. Aku ingin keliling Jogja dan hanya diriku sendiri. Aku ingin mengunjungi tempat makan unik sendirian, dengan begitu aku benar-benar mewujudkan me time atau bisa kusebut dengan escape holiday (karena bertepatan dengan weekend panjang.

Untuk perjalanan kulinerku di Jogja selengkapnya akan aku post di part selanjutnya ;)



Jumat, 01 Desember 2017

2018 Resolution: Go International!

Sedikit curhat--atau mungkin bakal banyak, hehe--meskipun sebenarnya sejak awal tahun kemarin sebenarnya aku udah mengkhususkan blog ini untuk mencurahkan cerita keseharianku yang berkaitan soal kuliner, tetapi maafkan aku kalau dalam posting-an kali ini aku agak sedikit menyimpang dari peruntukan awal blog ini.

Berhubung saat ini kita sudah memasuki bulan Desember, which is, the last month of the year, jadi aku sedikit mau menceritakan resolusiku, atau rencana yang ingin aku capai di tahun depan.

Mungkin membaca resolusiku bukanlah hal yang penting bagi para pembaca yang mungkin kebetulan mampir ke blog-ku ini, tapi entah kenapa aku ingin berbagi soal rencanaku untuk tahun depan nanti, mungkin aja nantinya akan ada orang lainnya yang tergugah dan ikut tertular semangatku untuk mencapai hal ini.

Resolusiku adalah: Go International!

Kalau Agnezmo di masa mudanya sering mengatakan kepada media bahwa ia ingin Go International--dan akhirnya sekarang pun terwujud--aku ingin melakukan hal yang sama. Dan kalau aspek yang ingin di Go International-kan oleh Agnezmo adalah kariernya sebagai penyanyi, lalu aspek yang akan aku Go International-kan apa? Kuliner?

Ya, itu juga sih, haha. Nanti sambil menyelam minum air, aspek kuliner ini secara tidak langsung akan aku Go International-kan juga ketika aspek utama yang ingin aku Go International-kan terwujud.

Jadi karena dari tadi aku muter-muter aja pembicaraannya, oke deh, aku akan bilang sekarang. Berhubung aku masihlah seorang mahasiswa, jadi aspek utama yang ingin aku Go International-kan adalah pendidikanku. Aku merasa, tahun-tahun pertama kuliahku kemarin sudah cukup kugunakan untuk mendapatkan banyak pengalaman keorganisasian dan kegiatan sosial. Maka di pertengahan masa kuliahku ini, aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk merasakan pengalaman lain yang tidak semua orang dapat dengan mudah merasakannya. Ini adalah tantangan baru bagiku yang sangat ingin aku taklukan, karena aku rasa ini adalah saat dimana jiwa mudaku masih bergelora, aku masih sangat semangat untuk mencoba hal-hal baru, dan lagi, jika aku sudah masuk ke tahun terakhir nanti, mungkin aku tidak bisa memikirkan hal-hal ini lagi--atau paling tidak aku harus menundanya sampai aku lulus, dan aku harus menunggu cukup lama lagi sampai saat itu tiba.

Mungkin hal ini terlihat muluk, tetapi seperti Agnezmo, apa yang semula dipikirkan orang lain adalah sesuatu yang tidak mungkin, toh pada akhirnya dia bisa mewujudkannya. Kemudian, rasa optimis dari dalam diriku sedikit demi sedikit muncul.

Berbekal semangat yang dipancarkan Agnezmo, dan secara kebetulan aku juga sempat terlibat dalam sosialisasi tentang pendidikan lanjutan dan pembicara dalam sosialisasi tersebut inspiring banget karena pada awalnya dia adalah orang yang tidak mampu, tetapi dia punya semangat untuk melihat dunia dari tanah yang berbeda, sehingga berangkatlah dia ke Jepang, dan semua biaya terkait studinya di Jepang dibiayai oleh beasiswa!

Mulai dari sana, aku langsung semangat untuk mencari beasiswa, baik untuk studi di dalam negeri ataupun di luar negeri. Ditambah lagi, aku pernah berada di dalam kereta menuju suatu kota, dan di sebelah tempat dudukku ada dua orang ibu-ibu yang asyik mengobrol tentang anaknya yang baru saja menyelesaikan studi di luar negeri dan sebentar lagi akan kembali ke Indonesia. Ditambah lagi, aku mendengar kalau ibu tersebut berasal dari daerah yang sama denganku. Mendengar cerita dari ibu tersebut yang terdengar sangat bahagia ketika menceritakan kalau anaknya sudah dapat menjejakkan kakinya ke banyak negara Eropa membuatku semakin terpacu untuk Go International. Orang dari daerah yang sama denganku sudah bisa melakukan itu, aku pun menjadi memiliki semangat agar bisa mencapai hal tersebut juga. Aku juga ingin melihat orang tuaku memiliki kebahagiaan yang sama seperti ibu itu ketika menceritakan tentang keberadaanku kepada orang lain. Aku ingin ibuku-lah yang berbahagia itu, yang dengan semangat mengatakan "Oh, anakku sekarang sedang ada di Amerika Serikat, akhir tahun nanti dia baru pulang, karena dia harus belajar disana selama satu semester." atau "Anakku sekarang sedang berada di Australia, sedang ada kegiatan sosial bersama organisasi internasional. Dua minggu lagi baru pulang." atau "Dia sedang berada di Belanda selama satu minggu. Dia sudah banyak melihat dunia."

Lalu, betapa senangnya hatiku setelah melakukan pencarian panjang atas beasiswa-beasiswa tersebut, akhirnya aku menemukan program short course untuk studi di Amerika Serikat, Belanda, dan Australia. Aku pun langsung mencoba apply program tersebut.

Saat ini, aku sedang berada dalam tahap pengumpulan dokumen untuk apply study di Australia dan Amerika karena batas pengumpulannya sudah dekat. Beberapa hari yang lalu, aku meminta Letter of Recommendation dari salah satu Profesor yang juga adalah dosenku. Beliau sangat senang dan antusias ketika melihat aku akan apply ke Amerika, karena ternyata beliau juga salah satu awardee dari program yang diselenggarakan oleh Amerika ini. Selain itu, beliau mengatakan kalau beliau sangat senang jika anak-anak didiknya dapat mengambil pengalaman yang jauh sampai ke luar negeri sana, apalagi ia turut andil dalam proses tersebut. Beliau akan sangat senang jika aku benar-benar mendapatkan program ini dan dapat berangkat ke Amerika tahun depan. Beliau bahkan berpesan "Pokoknya kalau nanti sudah sampai di negeri Paman Sam, jangan lupakan ibu, ya."  Sumpah, disitu aku terharu banget! Tahap seleksi aja belum, ibu ini udah sampai membayangkan sejauh itu. Secara tidak langsung, kata-katanya tersebut semakin meningkatkan rasa optimisku untuk mengikuti program ini. Aku bahagia karena ada orang yang percaya kalau nanti aku bisa sampai negeri Paman Sam.

Tentu saja, bu. Saya tidak akan lupa bagaimana ibu mendukung saya, mulai dari bersedia memberikan Letter of Recommendation untuk saya--disaat mungkin dosen lainnya yang notabennya tidak begitu mengenal saya (karena saya bukan tipikal murid yang menonjol di kelas atau rajin lomba dan memenangkan kompetisi) agak keberatan untuk istilahnya menjadi 'penjamin' atas diri saya, karena orang yang memberi rekomendasi kemungkinan akan dihubungi terkait rekomendasinya atas diri saya--ibu dengan antusias dan senang hati mau membantu saya, bahkan menularkan optimisme kepada saya juga sehingga saya yang awalnya tidak memiliki keyakinan sama sekali terhadap program ini, pada akhirnya mau sedikit-sedikit mencoba berani merasa optimis akan hal yang sedang saya coba.

Kembali lagi, seperti Agnezmo, mungkin aja dengan aku bilang ke media kalau aku ingin Go International, nantinya keinginanku ini benar terwujud. Terlebih lagi, tujuanku yang utama bukan hanya 'curhat' kalau di tahun 2018 aku mau Go International, tetapi aku ingin menularkan semangat untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya, melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, sisi benua yang berbeda. Aku bukanlah seorang awardee beasiswa luar negeri yang pengalamannya dapat memberikan inspirasi seperti pembicara pada sosialisasi pendidikan yang pernah kuikuti itu, tetapi aku ingin jika orang-orang yang membaca tulisan ini juga mendapatkan semangat yang kurasakan saat ini, dan sama-sama kita mencapai resolusi itu.

Last but not least,

Mimpiku mungkin mimpi kalian juga. Kalau mereka yang pernah bermimpi akhirnya bisa mewujudkannya, berarti kita juga bisa!

#bukanfansagnezmotapiterinspirasi

Rabu, 11 Januari 2017

Kuliner di Solo: Malam Minggu di Arje's Kitchen

Berawal dari Sabtu malam yang sepi karena lorong yang terdiri dari tujuh kamar terasa sangat sunyi karena hanya dihuni oleh dua orang malam itu, membuatku mengajak satu-satunya tetangga yang tersisa untuk pergi keluar untuk mengisi perut.

Ya, hanya kami yang tersisa malam itu karena rata-rata dari tetanggaku lagi pergi entah kemana--atau mungkin lagi di tempat tinggal mereka yang lain--sehingga pada akhirnya aku pun pergi sama satu-satunya tetanggaku yang tersisa itu (Ya... walaupun kalau lagi ramai pun aku juga bakal tetap pergi sama dia sih, karena dia memang partnerku kalo lagi nyari makan, hehe).

Meski cuaca diluar lagi kurang bagus dengan sedikit gerimis yang mengiri perjalanan kami, akhirnya kami pun sampai di sebuah rumah makan yang terletak di Jalan Antariksa 3, Jebres, Surakarta. Dari luar aja udah keliatan kalo tempat ini catchy apalagi untuk selera kaula muda. Sayangnya, lokasi rumah makan ini bisa dibilang pelosok apalagi untuk orang-orang yang gak tinggal di daerah Jebres. Posisinya yang terletak di dalam gang dan juga kurangnya penunjuk arah dari jalan utama menuju gang dimana Arje's Kitchen tersebut berada membuat tempat ini mulanya agak susah untuk dicari.

Baiklah, karena udara yang mulai dingin karena hujan sebentar lagi akan turun, membuat perutku semakin lapar dan aku pun memasuki tempat itu dengan semangat.

Well, sebenarnya ini bukan kali pertama aku kesini. Sebelumnya aku udah pernah kesini karena rekomendasi seorang teman. Pada saat itu, kami melakukan pertemuan dengan orang yang cukup banyak dan beruntungnya tempat ini punya spot-spot yang mampu menampung sekelompok orang berjumlah banyak yang ingin makan bersama. Poin plus untuk tempat ini.

Lain halnya dengan dulu, sekarang aku cuma berdua dengan tetanggaku itu, akhirnya kami pun memilih tempat duduk yang tidak terlalu besar, tempat duduk yang cocok untuk dua orang.

FYI, tempat ini terdiri dari dua lantai, tapi meja untuk dua orang banyak terdapat di lantai dua, selain itu pemandangan dan suasana di lantai dua rasanya lebih bagus dibanding lantai satu menurut pendapatku (catatan: ini penilaian pribadiku. Suasana lantai dua maupun lantai satu sebenarnya bersifat subjektif, tergantung selera masing-masing. Tapi satu hal yang perlu kuingatkan, suasana di lantai satu juga gak kalah keren sama yang di lantai dua, sih. Tapi entah kenapa aku suka aja di lantai atas). Hal yang membuatku lebih senang memilih spot di lantai dua adalah karena terdapat gazebo-gazebo santai yang membuat kita betah kayak di rumah, ada sofa-sofa yang gak kalah nyamannya dengan gazebo tadi, dan yang bikin aku makin suka lagi sama lantai dua adalah karena ada gambar Mas Chris Martin dan teman-temannya yang tergabung dalam Coldplay yang ikutan mejeng menghiasi dinding lantai dua Arje's Kitchen. Wuih, makin enak deh makan sambil diliatin (atau malah ngeliatin?) Chris Martin, hehe.

Tapi sayangnya, kami para tuna asmara lupa kalau saat itu adalah Malam Minggu, jadi spot untuk dua orang rata-rata sudah terisi, padahal saat itu baru pukul 7! Wah, kalah cepat, deh

Tapi sayangnya, kami para tuna asmara lupa kalau saat itu adalah Malam Minggu, jadi spot untuk dua orang rata-rata sudah terisi, padahal saat itu baru pukul 7! Wah, kalah cepat, deh

Tapi sayangnya, kami para tuna asmara lupa kalau saat itu adalah Malam Minggu, jadi spot untuk dua orang rata-rata sudah terisi, padahal saat itu baru pukul 7! Wah, kalah cepat, deh.

Dengan berat hati, kami kembali ke lantai satu dan memilih meja untuk empat orang. Belum lama kami duduk disana, kami merasa kurang nyaman karena meja tersebut terletak sangat tengah dan semua orang dari setiap sudut tempat ini bisa melihat kami dengan jelas, dari pintu masuk, dapur, depan toilet, sampai orang-orang di lantai atas juga bisa melihat kami.

Akhirnya, aku melihat ada spot untuk dua orang yang baru aja kosong. Kami pun pindah lagi ke spot tersebut. Spot tersebut berada di pojok dan persis berada di sebelah jendela kaca yang besar yang memisahkan bagian dalam dan bagian luar rumah makan tersebut.

 Spot tersebut berada di pojok dan persis berada di sebelah jendela kaca yang besar yang memisahkan bagian dalam dan bagian luar rumah makan tersebut

 Spot tersebut berada di pojok dan persis berada di sebelah jendela kaca yang besar yang memisahkan bagian dalam dan bagian luar rumah makan tersebut

Baru beberapa saat kami duduk di spot tersebut, aku pun merasa kurang nyaman lagi. Spot untuk dua orang yang berada di bagian paling pojok rumah makan tersebut membuatku merasa bahwa ruang gerakku lebih sempit, selain itu mejanya lebih kecil sehingga pada akhirnya kami pun kembali ke tempat awal yang kami duduki tadi yang terletak di bagian tengah lantai satu. Dasar cewek, hehe. Maklumi aja, ya. Cewek kalo lagi labil ribetnya ya kayak gitu, muter-muter sana-sini tapi yaa ujung-ujungnya balik ke pilihan awal lagi, hehe.

Setelah memastikan bahwa kami benar-benar enggak pindah kemana-mana lagi, pelayan pun datang membawa daftar menu, kemudian kami pun mulai memesan.

Menu makanan di tempat ini terlihat dominan western, tapi harga yang mereka tawarkan relatif murah. Entah lagi kalap atau gimana; aku dan temanku memesan banyak banget makanan yang kayaknya gak meyakinkan kalo makanan-makanan tersebut baru aja dipesan sama dua cewek bertubuh kecil kayak kami ini.

Kami pun mencoba Chicken Teriyaki Bowl, Tuna Mayo Sandwich, Smoked Beef and Mushroom Fettuccini, Onion Ring, Strawberry Fried Rice, Ice Tea, Hot Chocolate, Laughing Soda, dan Sparkling Summer.

Kami pun mencoba Chicken Teriyaki Bowl, Tuna Mayo Sandwich, Smoked Beef and Mushroom Fettuccini, Onion Ring, Strawberry Fried Rice, Ice Tea, Hot Chocolate, Laughing Soda, dan Sparkling Summer

(Itu bukan saya, kok. Itu (kebetulan) model endorse-an, uehehehehehehe)

Sambil menunggu pesanan kami datang, aku memindai pemandangan di sekitar ruangan. Desain Arje's Kitchen ini terbilang unik dan menarik, karena setiap dinding memiliki gambar dengan tema yang berbeda antara satu dan lainnya, sehingga setiap spot di Arje's Kitchen ini memberikan suana yang berbeda kepada pengunjung.

Tidak terlalu lama kami menunggu, akhirnya pesanan kami pun datang. Oke, mari kita bahas satu per satu, begini kronologinya:

Chicken Teriyakinya menurutku biasa aja, kurang renyah, atau justru karena terlalu banyak tepung kesannya jadi keras (?), tetapi untuk penikmat porsi besar, sepertinya akan terpuaskan oleh Rice Bowl dari Arje's Kitchen ini yang porsinya lebih besa...

Chicken Teriyakinya menurutku biasa aja, kurang renyah, atau justru karena terlalu banyak tepung kesannya jadi keras (?), tetapi untuk penikmat porsi besar, sepertinya akan terpuaskan oleh Rice Bowl dari Arje's Kitchen ini yang porsinya lebih besar dari Rice Bowl pada umumnya.

Kemudian, hal lain yang membuatku kecewa adalah nasi gorengku yang seharusnya 'merah-merah-strawberry', eh pas masuk ke mulutku kok rasanya pedas... Awalnya aku pikir nasi goreng ini memang sengaja dibubuhi sedikit rasa pedas agar pengunjung yang kurang cocok dengan inovasi semacam ini gak mual karena.. you know, nasi goreng dicampur strawberry memang agak aneh dan jarang ditemui, kan?

Tapi masalahnya, udah hampir setengah habis nasi goreng itu kumakan, mulutku terasa semakin pedas (ya, aku memang bukan penikmat makanan pedas, makanan pedas yang bisa ditolerir sama mulutku cuma masakan Padang aja. Jadi, mulutku cukup sensitif dengan rasa makanan pedas), aku pun mulai curiga kalau si koki salah memasukkan strawberry-nya, kemungkinan yang dimasukannya bukan strawberry, tapi cabai, karena aku nyaris tidak menemukan rasa strawberry pada nasi goreng itu.

Celakanya, awalnya aku memesan Hot Chocolate, dan rasa panas dari cokelat tersebut justru malah semakin memperparah keadaan mulutku. Akhirnya, dengan panik aku pun memesan Ice Tea. Es teh yang disuguhkan disana sepertinya hanya es teh alakadarnya aja, karena rasanya sangat kurang manis, beruntung es teh ini sedikit banyak dapat menyelamatkan mulutku, akhirnya aku pun bisa memaafkan kesalahan-kesalahan itu.

Selanjutnya, datanglah Tuna Mayo Sandwich dan Onion Ring pesanan kami. Well, awalnya kami ingin memesan Churros untuk dimakan bersama sebagai teman mengobrol santai kami nantinya, tetapi Churros-nya ternyata udah habis, akhirnya kami memutuskan untuk memesan si bawang itu.

Aku memulai dari Tuna Mayo-nya. Bisa dibilang, Tuna Mayo ini menyelamatkan Arje's Kitchen di mataku, karena Tuna Mayo Sandwich ini dapat memuaskan lidahku. Namun, masih ada beberapa catatan, yaitu mayo-nya yang terasa lebih kuat dan kurang nge-blend dengan tuna-nya. Selain itu, tuna-nya kurang halus, tapi itu cukup bagus menurutku, agar daging tunanya lebih terasa.

Kemudian, yang bikin aku suka sama Sandwich ini adalah rotinya yang lembut, suka deh! Ditambah lagi sayurannya yang segar, seperti tomatnya yang terasa gurih, juicy, dan agak manis, begitu juga dengan seladanya, membuatku yang biasanya kurang suka sayuran apalagi tomat, sampai semangat untuk melahapnya. Sejauh ini, Tuna Mayo Sandwich punyanya Arje's Kitchen ini yang menurutku terenak dibandingkan Tuna Mayo Sandwich di beberapa tempat sebelumnya yang pernah kucoba (ulasan tentang restoran Sandwich lainnya menyusul).

Onion Ring-nya juga enak banget dan recommended. Rasanya renyah, bumbunya terasa dan enakkk. Kayaknya sih pake tepung bumbu ayam goreng karna rasanya mirip, tapi justru itu yang bikin enak. Bawangnya besar dan legit, ditambah lagi dicocol pake saus mayo, hmmm... tambah greget! Sejauh ini, Onion Ring buatan Arje's Kitchen ini juga yang paling enak dibanding tempat lain yang pernah aku coba, bahkan lebih enak dari buatanku sendiri, hehe. #yaiyalah

Beralih ke minuman, Sparkling Summer-nya enak

Beralih ke minuman, Sparkling Summer-nya enak. Pada awalnya, rasa Sparkling Summer ini dominan asam meskipun udah diaduk. Tapi setelah didiamkan, rasanya mulai menyatu dan enak. Rasa segar ini berasal dari perpaduan rasa asam, soda, dan dingin es, cocok banget diminum pas lagi cuaca panas ala-ala Summer gitu (kayak udah pernah ngerasain Summer betulan aja kamu, Dy. Biasanya juga musim kemarau). Minuman ini selain rasanya yang unik, penampilan minuman ini juga menarik. Ketika pertama kali dihidangkan, minuman ini terdiri dari beberapa lapisan warna, dan ketika diaduk, lapisan warna itu menyatu menjadi warna kuning kehijauan--walaupun perbedaan warnanya enggak terlalu beda jauh sama yang sebelum diaduk, sih.

Beralih ke Laughing Soda, sebenarnya enggak ada hal menarik dari rasa minuman ini, rasanya sama aja kayak Soda Gembira pada umumnya

Beralih ke Laughing Soda, sebenarnya enggak ada hal menarik dari rasa minuman ini, rasanya sama aja kayak Soda Gembira pada umumnya. Satu-satunya yang bikin minuman ini unik dan bikin penasaran yaa karena namanya itu yang diubah sedikit dari nama tenarnya yang biasa.

Meskipun ada beberapa kekurangan dari Arje's Kitchen yang udah kujabarin beberapanya diatas, dan ada tambahan dari temenku yang juga pernah kesana, katanya dia pernah menunggu lama makanannya datang (beruntung aku enggak terlalu nunggu lama waktu itu meskipun hari itu lagi malam minggu), pernah juga ada yang salah buat makanan, kadang juga pelayannya agak bingung nyari-nyariin meja kita, padahal kita udah nulis nomor meja-nya pas lagi mesan (entahlah, mungkin dia lelah), tetapi disamping semua itu, rasa makanan dan minuman yang disajikan Arje's Kitchen enggak terlalu mengecewakan, memang ada insiden tentang makanan yang mengecewakan, tetapi mereka juga punya makanan yang bisa bikin kita angkat jempol. Meskipun agak kecewa, tapi itu gak bikin aku kapok untuk kesana lagi nantinya, masih banyak menu-menu Arje's Kitchen yang bikin aku penasaran dan pengen nyoba di lain waktu, dan untuk Arje's Kitchen, mohon maaf apabila ada ulasanku yang kurang mengenakkan, aku tidak bermaksud menjatuhkan, menjelekkan atau bagaimana, tapi ini aku lakukan agar Arje's Kitchen dapat memperbaiki pelayanan dan dapat melayani serta menyajikan makanan lebih baik lagi kepada pengunjung.

Sekian, wah panjang juga ya, hehe.